Sepanjang sejarah orang-orang sombong telah menggiring jutaan manusia ke lembah penderitaan bersama diri mereka sendiri. Di masa kini pun, kesombongan masih saja menimpakan dunia kegelapan terhadap tak terhingga manusia. Penduduk dunia gelap ini hidup tanpa ketulusan. Mereka gemar menyombongkan diri, dan satu-satunya yang mereka inginkan adalah pujian dari orang lain dan menjadi titik pusat perhatian. Di mana pun mereka berada, mereka berkeyakinan bahwa merekalah manusia yang terbaik, paling menarik dan paling berhasil yang pernah ada. Mereka berupaya agar hal ini tampak dengan segala cara. Keadaan pemikiran ini tercermin dalam perilaku mereka.
Dalam film ini, kita akan mempelajari dua kisah kehidupan di alam yang menyanggah teori Darwin, yaitu perangkat penentu arah dari lebah madu dan perjalanan menakjubkan ikan salmon. Dua kisah ini menunjukkan bahwa kehidupan di bumi bukanlah muncul dengan sendirinya tanpa sengaja diciptakan. Makhluk hidup tidaklah terbentuk tanpa sengaja dan tanpa kehendak. Sebaliknya, kehidupan adalah hasil karya cipta dari Pencipta Yang Mahacerdas dan Mahaperkasa.
Dalam film ini Anda dapat mengkaji sejumlah fakta tentang “Kaum Saba” yang mendiami wilayah yang sangat indah dengan kebun-kebun anggur dan taman-tamannya. Dikisahkan pula di dalamnya bagaimana kaum tersebut tiba-tiba dihancurkan oleh banjir ‘Arim. Anda pun akan mengkaji tentang Fir’aun, yang menolak mendengarkan risalah yang dibawa Nabi Musa, dan saudaranya Harun, tatkala mereka menyampaikan perintah Allah. Saksikan pula kehancuran Fir’aun dan bala tentaranya yang ditenggelamkan ke dalam air.
Pengamatan ilmiah memperkenalkan manusia kepada rahasia penciptaan, dan akhirnya kepada ilmu, hikmah, dan kekuasaan Tuhan yang tak terbatas. Albert Einstein berkata, ”Ilmu pengetahuan tanpa agama adalah pincang”. Artinya, tanpa arahan agama, ilmu pengetahuan tidak dapat berkembang dengan benar, bahkan membuang-buang waktu dalam mencapai hasilnya. Lebih buruk lagi, seringkali kegiatan ilmiah itu tidak membuahkan hasil. Sebagai agama yang menghargai akal, Islam mendorong pengembangan ilmu pengetahuan. Saksikan film ini untuk memahami bagaimana Al Qur’an membuka pintu ilmu pengetahuan dengan menyeru manusia memikirkan dan meneliti tanda-tanda penciptaan di sekeliling mereka.
Jagat raya suatu hari pasti akan berakhir. Hari Kiamat tak terhindarkan lagi akan pasti terjadi sebagaimana diberitakan dalam Al Qur’an dalam salah satu ayat: “Dan sesungguhnya hari kiamat itu pastilah datang, tak ada keraguan padanya...” (QS. Al Hajj, 22:7). Meski merahasiakan waktu datangnya Hari Kiamat, Allah mewahyukan kepada Nabi Muhammad sejumlah peristiwa dan pertanda tertentu yang menunjukkan datangnya Hari Kiamat. Dalam film ini, akan Anda saksikan sejumlah pertanda yang mengisyaratkan sangat dekatnya Hari Kiamat itu: dari peperangan dan kekacauan yang jumlahnya semakin meningkat hingga penghancuran kota-kota besar, dari gempa bumi hingga perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Tahukah Anda, seandainya pasca peristiwa Big Bang alam semesta ini mengembang dengan kecepatan sedikit saja lebih besar daripada yang seharusnya, maka materi yang ada di dalamnya akan berhamburan dan menyebar di seantero jagat raya, hilang entah ke mana sehingga memustahilkan pembentukan galaksi maupun bintang. Atau, jika materi tersebut terpisah dan memencar dengan kecepatan sedikit saja lebih lambat daripada yang ada, maka seluruh materi akan saling menyatu dan menggumpal sehingga tidak memungkinkan terbentuknya gugusan-gugusan bintang. Ini hanyalah satu contoh saja pengaturan dan perhitungan cermat dari keseluruhan bangunan alam semesta. Saksikan dalam film ini bagaimana astronomi modern menyibak tanda-tanda kebesaran Allah.
Teror... Peperangan, pengusiran dan pembantaian... Selama puluhan tahun hingga kini Al Quds bersimbah darah, air mata dan penderitaan... Namun sebelumnya, terdapat masa di mana Palestina menjadi teladan bagi perdamaian, kerukunan dan keadilan. Pemeluk agama yang berbeda hidup berdampingan sebagai saudara dan beribadah dengan semangat saling menghormati dan menghargai. Masa kedamaian ini terjadi dalam sejarah di masa pemerintahan Muslim. Kala itu, wilayah ini di bawah pemerintahan Islam setelah pengambil-alihan Palestina oleh Khalifah Umar pada tahun 637 M. Pemerintahan baru ini memperlihatkan toleransi besar terhadap kaum Nasrani dan Yahudi. Sebagaimana ajaran Islam, pemerintahan Muslim mengizinkan pemeluk agama lain untuk hidup sesuai agama mereka masing-masing. Kekhalifahan Utsmaniyyah mengambil alih wilayah ini pada tahun 1517 dan memperlihatkan toleransi dan keadilan yang sama sebagaimana pemerintahan Muslim sebelumnya. Mereka membangun suasana perdamaian dan kebebasan di wilayah yang masih menjadi teladan hingga kini. Berkat “sistem bangsa,” yang mengizinkan pemeluk agama berbeda untuk hidup sesuai keyakinan masing-masing, kaum Nasrani dan Yahudi menikmati lingkungan yang penuh toleransi, keamanan dan kebebasan di wilayah kekhalifahan Utsmaniyyah.